MUARA TEMBESI, zoom fakta – Air Sungai Batanghari di RT 04 Desa Rantau Kapas Mudo, Kabupaten Batang Hari, Jambi, tampak tenang pada Kamis pagi, 15 Oktober 2026. Namun di balik permukaannya, arus tak terduga datang menyapu kegembiraan enam anak sekolah dasar yang tengah berenang. Hari itu, keceriaan berubah menjadi kepanikan setelah Akbar bin Agus Gulo, bocah 11 tahun, terseret ke dasar sungai.
Peristiwa bermula sekitar pukul 10.00 WIB. Akbar bersama lima kawannya murid kelas V SD Negeri 47/I Rantau Kapas Mudo, bermain dan mandi di tepi sungai. Tiba-tiba, Khumairah, salah seorang teman perempuan mereka, hanyut terseret arus.
Melihat rekannya dalam bahaya, Akbar berenang mendekat dan mencoba menolong. Khumairah berhasil selamat mencapai tepi, namun Akbar justru terseret pusaran air. Anak-anak lain yang menyaksikan kejebak dalam situasi mencekam. Mereka sempat berusaha meraih tangan Akbar, tetapi dorongan air terlampau kuat hingga hampir menarik mereka ikut tenggelam.
Napas terengah-engah, anak-anak itu akhirnya menyelamatkan diri ke daratan dan berlari memberitahukan warga desa.
Pencarian besar-besaran langsung digelar hingga Kamis sore. Tim gabungan yang terdiri atas Polsek Muara Tembesi, Polairud Polda Jambi, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang Hari, serta warga setempat menyisir aliran sungai.
“Begitu menerima laporan, personel langsung dikerahkan ke lokasi untuk berkoordinasi menyisir titik-titik rawan,” kata Kepala Kepolisian Sektor Muara Tembesi, Inspektur Satu Sugeng, Kamis, 15 Oktober 2026.
Pencarian dilakukan menggunakan perahu kayu, kapal patroli, hingga peralatan tradisional milik warga setempat. Anggota Masyarakat Peduli Jembatan (MPJ) bersama warga Desa Pelayangan, Rantau Kapas Mudo, dan Rantau Kapas Tuo turut menyelami sejumlah titik yang diperkirakan menjadi lokasi tenggelamnya korban.
Proses pencarian tak berjalan mudah. Meski permukaan Batanghari tampak tenang akibat musim kemarau, kondisi dasar sungai menyimpan bahaya laten: kedalaman yang berubah mendadak, bukit pasir yang tak beraturan, serta arus bawah yang kencang. Lebih dari itu, kawasan tersebut dikenal sebagai habitat buaya sungai.
“Karakteristik sungai dan kemunculan buaya menjadi pertimbangan utama keselamatan tim penyelamat,” ujar Sugeng.
Hingga Kamis sore pukul 17.30 WIB, keberadaan Akbar belum terdeteksi. Mengingat jarak pandang dan keselamatan personel, operasi pencarian dihentikan sementara dan dilanjutkan Jumat pagi, 16 Oktober 2026. Di tepi Batanghari, keluarga korban masih menanti kepastian nasib sang bocah.
Wartawan: Sabli














