BATANG HARI, Rabu, 15-7-2026 – Setiap zaman memiliki ujiannya sendiri. Ada kalanya sebuah ikhtiar dipuji, ada pula saat niat baik dipertanyakan. Di tengah polemik pemberitaan mengenai dana Program Indonesia Pintar (PIP), MAN 2 Batang Hari memilih menjawab dengan musyawarah, bukan amarah.
Dalam pertemuan yang dihadiri Kepala MAN 2 Batang Hari, para orang tua siswa penerima PIP, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, dan Wakil Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas), para orang tua menyampaikan sikap yang mereka anggap perlu diluruskan di hadapan publik.
Mereka menegaskan bahwa sumbangan yang diberikan untuk pembangunan WC musala dan tempat wudu merupakan bentuk kerelaan hati. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan, apalagi kewajiban yang mengikat. Sumbangan itu, menurut mereka, lahir dari kesadaran untuk ikut membangun fasilitas yang manfaatnya akan dirasakan bersama.
Bahkan, para orang tua menyatakan keberatan apabila dana yang telah diserahkan dikembalikan. Bagi mereka, sumbangan tersebut telah diniatkan sebagai wakaf, infak, dan amal jariah yang pahalanya diharapkan terus mengalir selama fasilitas itu digunakan.
Dalam musyawarah itu pula muncul pandangan agar setiap persoalan diselesaikan melalui jalan hukum apabila memang terdapat pihak yang merasa dirugikan oleh suatu pemberitaan. Mereka menilai negara telah menyediakan mekanisme hukum yang dapat ditempuh sesuai peraturan perundang-undangan, sehingga setiap sengketa dapat diuji secara adil dan terbuka.
Para peserta rapat juga berharap media yang memuat pemberitaan terkait memberikan ruang bagi hak jawab dan koreksi apabila terdapat informasi yang dinilai belum utuh atau belum memenuhi prinsip keberimbangan, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Usai rapat, Kepala MAN 2 Batang Hari, Khoirul, memilih menyikapi persoalan tersebut dengan kepala dingin. Menurutnya, jalan kebaikan tidak selalu bebas dari ujian.
«”Berbuat baik itu banyak tantangannya. Makin tinggi pucuk batang, makin kencang angin yang menerpa. Yang terpenting, istiqamah dalam berbuat kebaikan,” ujar Khoirul.»
Perkataan itu menjadi penutup dari sebuah pertemuan yang lebih mengedepankan musyawarah daripada saling menyalahkan. Sebab, sebagaimana sering diajarkan para tokoh pergerakan bangsa, kekuatan masyarakat tidak lahir dari kebisingan perselisihan, melainkan dari kejujuran, persatuan, dan kebijaksanaan dalam mencari kebenaran.
Hingga berita ini ditulis, pihak media yang dimaksud dalam rapat belum memberikan tanggapan. Demi menjunjung asas keberimbangan, redaksi tetap membuka ruang hak jawab bagi semua pihak yang berkepentingan untuk menyampaikan klarifikasi atau penjelasan.
Jurnalis: SABLI














