MUARA BULIAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batanghari tengah bersiap menggelontorkan anggaran fantastis pada tahun ini. Tak tanggung-tanggung, dana sebesar Rp 7,54 miliar dari APBD 2026 telah diketok palu untuk pengadaan alat peraga pendidikan yang tersebar di puluhan sekolah.
Berdasarkan dokumen yang dihimpun, proyek jumbo ini dipecah ke dalam empat paket pengadaan melalui skema e-purchasing. Meski proses pemilihan penyedia dijadwalkan rampung pada Maret ini, publik mulai menyoroti urgensi dan transparansi pengadaan alat-alat yang diklaim “berteknologi tinggi” tersebut.
Modul IT dan Lab Fisika
Paket paling gemuk jatuh pada pengadaan Modul Percobaan Fisika senilai Rp 2,88 miliar. Berbeda dengan alat peraga konvensional, spesifikasi paket ini mencakup perangkat antarmuka (interface) yang menghubungkan sensor dengan komputer. Sebanyak 36 paket alat sains berbasis IT ini rencananya akan didistribusikan untuk jenjang menengah.
Di level Sekolah Dasar, anggaran juga mengucur deras. Paket Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA) senilai Rp 1,48 miliar menjadi yang terbanyak secara kuantitas dengan total 46 paket. Di dalamnya, terselip item-item canggih seperti model planetarium dengan sistem gerigi dan globe rasi bintang.
Rincian Paket Pengadaan Disdikbud Batanghari 2026
Nama Paket Nilai Pagu Volume Spesifikasi Utama
Modul Percobaan Fisika Rp 2,88 Miliar 36 Paket Sensor IT & Interface Komputer
Alat Peraga Komprehensif SD Rp 2,11 Miliar 30 Paket IPA Dasar, Peta & Globe Informatif
Alat Peraga IPBA SD Rp 1,48 Miliar 46 Paket Planetarium Gerigi, Globe Rasi Bintang
Alat Peraga Komprehensif SMP Rp 1,06 Miliar 15 Paket Fisika Permainan, Carta Biologi A/B
Antara Inovasi dan Potensi Mangkrak
Meski secara administratif mewajibkan penggunaan Produk Dalam Negeri (PDN) dan melibatkan Usaha Kecil Menengah (UKM), proyek ini menyisakan celah pertanyaan. Pengadaan alat canggih seperti sensor digital di sekolah-sekolah pelosok Batanghari kerap terbentur pada kesiapan sumber daya manusia (guru) dan fasilitas pendukung.
“Pengawasan distribusi harus ketat. Jangan sampai barang seharga miliaran ini hanya berakhir menjadi penghuni tetap lemari kaca sekolah tanpa pernah disentuh siswa,” ujar salah satu sumber di lingkaran pendidikan Jambi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batanghari belum memberikan penjelasan detil mengenai kriteria pemilihan sekolah penerima maupun jaminan perawatan alat-alat tersebut pasca-kontrak berakhir pada Juni 2026 mendatang.
Lampu sorot kini mengarah pada proses e-purchasing yang sedang berjalan. Apakah murni untuk literasi sains, atau sekadar penyerapan anggaran di penghujung semester?
Reporter: Sabli














