MUARA BULIAN – Udara Sabtu pagi, 21 Maret 2026, di Simpang Terusan, Batanghari, masih menyisakan embun saat gema takbir mulai membubung ke langit. Di Masjid Nurul Jannah, ratusan jemaah bersujud khidmat menunaikan salat Idulfitri 1447 H. Tahun ini, Idulfitri tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan momen refleksi untuk menengok kembali hubungan antara anak dan orang tua di tengah kepungan era digital.
Kritik atas Jarak yang Tercipta karena Gawai
Dalam khotbah bertajuk “Rindu Seorang Anak kepada Kedua Orang Tuanya”, Khatib Ustaz Ahmad Januarsyah mengajak jemaah melakukan “audit digital” terhadap nurani masing-masing. Ia menyoroti fenomena gawai yang kerap menjadi tembok pembatas antara anak dan orang tua.
“Tengoklah catatan panggilan di ponsel kita. Berapa banyak durasi untuk urusan dunia, dan berapa detik yang tersisa untuk mendengar suara ayah serta ibu?” ujar sang khatib di hadapan ratusan jemaah.
Pertanyaan retoris tersebut memicu keheningan mendalam. Khatib mengingatkan bahwa di tengah riuh rendah informasi, silaturahmi sering kali tereduksi menjadi sekadar pesan singkat, kehilangan hangatnya sentuhan dan tatapan mata. Ia menegaskan bahwa setiap keberhasilan seorang anak merupakan hasil cucuran keringat orang tua yang sering kali terlupakan saat dunia sudah berada dalam genggaman.
Matematika Spiritual: 335 vs 30
Selain isu sosial, khatib menyodorkan otokritik tajam melalui perbandingan angka yang ia sebut sebagai “matematika spiritual”. Kalkulasi ini menjadi cermin bagi kaum urban dan pekerja mengenai alokasi waktu mereka:
335 Hari: Waktu yang dihabiskan manusia untuk mengejar ambisi duniawi dan nafkah.
30 Hari: Durasi singkat di bulan Ramadan untuk “pulang” kepada Tuhan.
“Kita bersedih melepas Ramadan karena dari 365 hari, hanya sebulan kita benar-benar memberikan diri secara totalitas kepada-Nya,” lanjutnya.
Rekonsiliasi di Ujung Sajadah
Usai doa penutup, suasana berubah emosional. Masjid Nurul Jannah menjadi panggung rekonsiliasi saat tradisi sungkem berlangsung haru. Para pemuda bersimpuh di kaki orang tua mereka—sebuah pemandangan kontras dengan hiruk-pikuk teknologi yang disinggung sebelumnya.
Bagi mereka yang terhalang jarak, layar ponsel kini beralih fungsi menjadi jembatan rindu. Panggilan video menghubungkan para perantau dengan ruang utama masjid. Hal ini membuktikan bahwa meski teknologi bisa menjauhkan yang dekat, ia juga mampu mengobati luka rindu yang tak sampai.
Perayaan Idulfitri 1447 H di Muara Bulian kali ini menegaskan bahwa esensi kemenangan bukan terletak pada kemewahan materi, melainkan pada kepulangan hati kepada doa orang tua dan Sang Pencipta.
Jurnalis: SABLI











