BATANGHARI – Rabu senja (7/5/2025) di Muara Bulian sontak terusik. Bukan gemuruh petir yang membelah langit, melainkan kedatangan tak terduga sejumlah penyidik Kejaksaan Negeri Batanghari yang menyatroni kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PdK) Kabupaten Batanghari. Pukul 17.30 WIB, iring-iringan petugas Adhyaksa ini bagai hantu yang muncul tiba-tiba, sontak memicu kehebohan di antara warga sekitar dan beberapa pegawai yang masih berkutat dengan pekerjaan.

 

Tanpa permisi, tanpa basa-basi, para penegak hukum ini langsung menyasar sebuah ruangan terpencil di sayap kiri bangunan kantor dinas. Pemandangan ini jelas bukan kunjungan silaturahmi biasa. Gelagat mencurigakan semakin menguat tatkala seorang pegawai Kejari Batanghari dari seksi Intel, Aska, dengan nada misterius mengaku bahwa timnya telah mengendap di kantor para pendidik ini sejak pukul 11.00 WIB. Sebuah pengakuan yang mengindikasikan operasi senyap dan terencana jauh sebelum sorot mata publik tertuju pada gedung tersebut.

 

Penggeledahan ruang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Non-Formal (PNF) menjadi fokus utama. Dalihnya klise: melengkapi alat bukti. Namun, tabir kerahasiaan begitu tebal menyelimuti kasus yang tengah diendus Korps Adhyaksa ini. “Untuk info lebih lanjut tunggu nanti kami akan melakukan press release,” ujar Aska, seolah menyiratkan adanya bom waktu informasi yang siap diledakkan ke permukaan.

 

Ketertutupan pihak Kejari ini justru memantik spekulasi liar. Ada apa gerangan di balik pintu ruang PAUD dan PNF? Aroma tak sedap apa yang tercium hingga membuat para penyidik bergerak secepat dan setertutup ini? Publik tentu bertanya-tanya, benarkah ada praktik kotor yang menggerogoti anggaran pendidikan, sektor yang seharusnya menjadi fondasi kemajuan bangsa?

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, tak satu pun perwakilan dari Dinas PdK Kabupaten Batanghari yang bersedia memberikan keterangan.

 

Bungkamnya pihak dinas semakin memperkuat dugaan adanya sesuatu yang disembunyikan. Sementara itu, para petugas kejaksaan masih berkutat dengan pemeriksaan, dan yang lebih mencengangkan, telah menyegel sebuah ruangan. Tindakan penyegelan ini jelas bukan prosedur standar dalam kunjungan biasa. Ini adalah sinyal kuat bahwa penyidik menemukan sesuatu yang signifikan, sesuatu yang mungkin akan mengguncang pilar-pilar birokrasi pendidikan di Batanghari.

 

Aksi senyap Kejari Batanghari ini jelas meninggalkan tanda tanya besar. Kasus apa yang sedang mereka bidik? Siapa saja yang terlibat? Dan yang paling penting, bagaimana nasib dunia pendidikan di Batanghari jika terbukti ada praktik korupsi di dalamnya? Publik menanti dengan napas tertahan, berharap kebenaran segera terungkap, dan keadilan dapat ditegakkan tanpa pandang bulu. Jangan sampai kantor yang seharusnya menjadi tempat merancang masa depan generasi penerus, justru menjadi panggung sandiwara praktik lancung yang merugikan.

 

Reporter: Sabli

Reporter: admin