Jambi, 23 Juni 2025 – Pemilihan Raya (PEMIRA) Fakultas Hukum Universitas Jambi (UNJA) berakhir dengan hasil mengejutkan yang menyisakan banyak ruang tanya. Pasangan calon nomor urut 2, Dini dan Sindi, dipastikan menang dan mengantongi mandat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur BEM FH UNJA periode 2025/2026— hanya dengan keunggulan satu suara atas pesaingnya, Billy dan M. Rifki.

Hasil tipis 974 berbanding 973 ini mengubah jalannya sejarah BEM FH UNJA, tapi juga menyorot sesuatu yang lebih mendalam: rapuhnya sistem demokrasi kampus jika tidak dijaga dengan transparansi dan partisipasi aktif seluruh elemen mahasiswa.

Ucapan syukur dari Dini dan Sindi menggambarkan atmosfer kemenangan yang masih membekas dalam euforia. Namun di balik pidato simbolik itu, masih membayang pertanyaan: bagaimana dinamika di balik layar berlangsung? Apakah benar proses ini sepenuhnya mencerminkan aspirasi kolektif mahasiswa hukum?

Partisipasi aktif mahasiswa memang layak diapresiasi, tetapi kemenangan selisih satu suara membuka ruang evaluasi tajam terhadap proses politik kampus: dari akurasi data pemilih hingga potensi tekanan politik internal. Fakta bahwa satu suara mampu menggeser arah kepemimpinan harus menjadi tamparan bahwa setiap suara bukan sekadar formalitas, tetapi nyawa demokrasi itu sendiri.

Kini, sorotan bukan hanya tertuju pada duet Dini–Sindi sebagai pemimpin baru, melainkan juga pada kemampuan mereka menjawab harapan besar dan menepis keraguan yang muncul sejak hari penghitungan suara.

Bukan sekadar menang, namun saatnya membuktikan bahwa mandat itu lahir dari legitimasi, bukan sekadar angka.

Reporter: Sabli

Reporter: admin