BATANG HARI – Di tengah arus informasi yang kian deras, para jurnalis di Provinsi Jambi memilih satu cara sederhana untuk kembali saling menyapa: sepak bola.

Bukan sekadar pertandingan, Turnamen Sepak Bola Antar pers se-Provinsi Jambi yang tengah dipersiapkan ini lahir dari kebutuhan yang lebih dalam—merawat kebersamaan di antara mereka yang sehari-hari justru sibuk mengejar perbedaan sudut pandang.

Rapat koordinasi yang digelar di Muara Bulian, Jumat (1/5/2026), menjadi penanda awal. Tema yang diusung, “Beda Media, Tapi Satu Gawang”, terasa seperti pengingat: boleh berbeda ruang redaksi, tetapi tetap satu tujuan—menguatkan persaudaraan.

Ketua panitia, Jufri AJB, menyebut turnamen ini bukan hanya tentang menang atau kalah. “Ini ruang silaturahmi, sekaligus ajakan untuk hidup lebih sehat di tengah rutinitas jurnalistik yang padat,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas pertandingan, panitia tidak berjalan sendiri. Mereka menggandeng PSSI dan KONI Batang Hari—dua institusi yang memahami betul bagaimana sebuah kompetisi seharusnya dijalankan: adil, tertib, dan profesional.

Turnamen dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 di Stadion Alun-Alun Batang Hari. Sebanyak 20 tim dari kabupaten/kota se-Provinsi Jambi akan ambil bagian, bermain dalam format setengah kompetisi. Setiap laga berdurasi 2 x 25 menit, dengan jeda singkat—cukup untuk menarik napas, sebelum kembali berlari.

Aturan dibuat tegas namun tetap memberi ruang fleksibilitas. Sistem 11 lawan 11 dengan offside tetap diberlakukan, sementara pergantian pemain menggunakan flying substitusi saat bola mati. Pertandingan akan digelar setiap akhir pekan, dari sore hingga malam, waktu ketika kesibukan redaksi mulai mereda.

Namun, di balik semangat kompetisi, ada batas yang dijaga. Panitia menegaskan, sportivitas adalah harga mati. Kartu kuning dan merah bukan hanya soal pelanggaran, tetapi juga tanggung jawab. Bahkan, keributan sekecil apa pun bisa berujung pada diskualifikasi.

Menariknya, turnamen ini tidak memungut biaya pendaftaran. Sebagai gantinya, panitia menyiapkan total hadiah puluhan juta rupiah—bukan semata soal nominal, tetapi bentuk penghargaan atas partisipasi dan semangat kebersamaan.

Di balik layar, kepanitiaan disusun lintas organisasi pers. Dedy dari IWO dipercaya sebagai ketua pelaksana, didukung berbagai pihak, termasuk Polres Batang Hari untuk pengamanan dan Dinas Kesehatan untuk memastikan aspek medis terpenuhi.

Dalam waktu dekat, panitia juga akan beraudiensi dengan Bupati Batang Hari. Harapannya sederhana, tetapi penting: agar turnamen ini tidak hanya berjalan lancar, melainkan juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

Pada akhirnya, sepak bola hanyalah medium. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah peluit panjang dibunyikan—ketika para jurnalis kembali ke ruang redaksi, membawa bukan hanya cerita pertandingan, tetapi juga rasa kebersamaan yang mungkin sempat terlewatkan.

Jurnalis: SABLI

Reporter: admin