BATANGHARI — Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Tunas Muda Bulian Super Tangguh menggelar “Workshop” Literasi Fisik dan Tes Antropometri Siswa Sekolah Dasar di Ruang Pola Kecil Kantor Bupati Batanghari, Kamis (23/7/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.44 WIB ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru olahraga dalam memahami tumbuh kembang dan kebugaran fisik peserta didik.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PDK) Kabupaten Batanghari, Zulfadli, S.Pd., M.Pd., Ketua KKGO Tunas Muda Bulian, Kartinah, S.Pd., serta jajaran pengurus Ikatan Guru Olahraga Nasional (IGORNAS) Serta Seluruh KKGO se-kabupaten Batang Hari.
Adapun materi utama workshop disampaikan oleh akademisi sekaligus pakar keolahragaan, Dr. Tri Bayu, S.Pd., M.Pd., AIFO., N.HFO. Fokus pembahasan mencakup Fundamental Movement Skills (FMS) serta strategi penerapan pembelajaran literasi fisik di tingkat sekolah dasar. Selain pembekalan materi teoritis dan praktis, para peserta mendapatkan fasilitas berupa e-sertifikat, e-modul, games edukatif, hingga doorprize.
Penanganan Cedera hingga Isu Obesitas Anak
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, para peserta memanfaatkan kesempatan untuk berkonsultasi langsung terkait berbagai kendala fisik dan perkembangan siswa di lapangan.
Menjawab pertanyaan perwakilan guru KKGO mengenai penanganan pascacedera pada atlet muda, Dr. Tri Bayu menjelaskan batasan peran guru olahraga dibandingkan dengan penanganan medis profesional.
“Untuk mendiagnosis penyebab pasti cedera olahraga pada atlet, diperlukan penanganan dokter bedah atau dokter ortopedi. Peran guru maupun pengurus KKGO berfokus pada tahap pemulihan melalui terapi penanganan awal, masa penyembuhan, serta beberapa bentuk latihan (treatment) terukur,” papar Dr. Tri Bayu.
Selanjutnya, menanggapi pertanyaan dari Lisa, guru KKGO Tunas Muda Bulian mengenai masalah kelebihan berat badan (overweight) dan tipe tubuh “endomorph” pada anak, ia menegaskan pentingnya intervensi gaya hidup dan peningkatan aktivitas fisik.
“Bentuk tubuh “endomorph” atau kecenderungan “overweight” sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola makan. Tingginya paparan serta penggunaan perangkat teknologi (TIK) sejak dini turut menjadi pemicu minimnya pergerakan anak sehingga memicu obesitas. Solusinya adalah meningkatkan motivasi dan literasi fisik (physical literacy) anak secara konsisten agar tercipta postur tubuh yang ideal,” tuturnya.
Solusi Pembelajaran bagi Anak Hiperaktif
Diskusi semakin hangat saat Joni, guru KKGO dari Kecamatan Bajubang, menyampaikan tantangan dalam mendampingi peserta didik yang hiperaktif dan sulit diarahkan saat pembelajaran di sekolah.
Dr. Tri Bayu menyarankan agar guru dan orang tua terlebih dahulu mengukur antropometri dasar (berat dan tinggi badan) serta mengevaluasi asupan gizi anak, terutama konsumsi gula harian seperti minuman perasa dan makanan manis.
“Banyak anak, terutama laki-laki, yang sulit diarahkan karena memiliki energi berlebih. Pendekatannya bukan diselimuti pembatasan ketat, melainkan berikan ruang eksplorasi yang lebih luas. Salurkan energi anak hiperaktif tersebut melalui aktivitas fisik yang menyenangkan, baik berupa permainan ketangkasan maupun cabang olahraga lainnya, untuk mendukung tumbuh kembang optimal siswa di sekolah dasar,” terang pakar keolahragaan tersebut.
Di sela-sela pemaparan materi, Dr. Tri Bayu juga membagikan kisah inspiratif perjalanan akademisnya saat menempuh pendidikan doktor (S3) sembari tetap konsisten berlatih hingga berhasil meraih prestasi sebagai karateka di tingkat kejuaraan nasional (Kejurnas). Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para guru olahraga di Kabupaten Batanghari untuk terus mengembangkan potensi diri dan anak didiknya.
Jurnalis: SABLI














