Batanghari, 01 Maret 2025 – Bisnis batu bara di Koto Boyo, Batanghari, telah menghasilkan triliunan rupiah per tahun, namun masyarakat setempat hanya merasakan dampak negatifnya. Warga Koto Boyo kini menghadapi kerusakan jalan desa, polusi udara, pencemaran sungai, dan suara bising akibat truk tambang. Mereka juga dirugikan karena jalan desa dan aset Pemda Batanghari diduga telah digarap untuk pembangunan jalan khusus batu bara tanpa sosialisasi kepada warga setempat.

 

Seorang pengacara menyebut bahwa situasi di Koto Boyo sudah sangat mengerikan, dengan putaran uang yang luar biasa besar namun hanya masuk ke kantong segelintir orang. Warga tidak mendapat keuntungan, sementara lingkungan rusak parah dengan lahan yang berubah menjadi danau dan rawa bekas tambang yang tak direklamasi.

 

Pembangunan jalan khusus batu bara diduga telah menggusur jalan desa dan aset pemda, memutus akses warga untuk menuju sekolah, masjid, dan rumah-rumah penduduk. Warga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk segera turun tangan, melakukan audit, memeriksa keabsahan klaim kepemilikan jalan, dan menyelidiki proses pembebasan lahan di Koto Boyo.

 

Mereka meminta kejelasan mengenai status jalan yang sebelumnya milik pemerintah namun kini diduga menjadi milik perusahaan atau perorangan. Warga khawatir bahwa hak mereka telah tersingkir demi kepentingan pengusaha batu bara, dan berharap ada tindakan hukum jika benar aset pemda telah “diambil” oleh pihak swasta tanpa izin resmi.

 

(Sabli)

Reporter: admin