SUMATERA — Negeri ini kembali diuji. Bukan oleh perang, bukan pula oleh invasi alien, melainkan oleh satu makhluk yang diam-diam paling ditakuti rakyat modern: listrik padam massal.

Saat sebagian besar wilayah Sumatera mendadak gelap gulita, rakyat sempat menduga banyak hal. Ada yang menuduh sabotase, ada yang menyalahkan cuaca, bahkan ada yang langsung mengecas power bank pakai doa.

Namun, Bareskrim Polri akhirnya turun tangan dan memastikan bahwa blackout tersebut bukan akibat sabotase. Penyebab sementara diduga berasal dari putusnya kabel SUTET yang kini masih dalam pendalaman.

Pernyataan itu sontak membuat masyarakat lega, meski tidak sedikit yang tetap bertanya-tanya: “Kabel setinggi itu putus sendiri? Ini kabel apa hubungan percintaan anak muda?”

Di tengah gelapnya Sumatera, rakyat mendadak kembali mengenal tetangga. Anak-anak keluar rumah, orang tua mencari lilin, dan sebagian warga baru sadar ternyata wajah anggota keluarganya lebih HD daripada layar ponsel.

Sementara itu, para pemilik warung kopi mulai mengalami gejala darurat nasional: WiFi mati. Sebagian warga bahkan terlihat berjalan mondar-mandir sambil mengangkat ponsel ke langit, berharap sinyal turun bersama hidayah.

“Ini bukan blackout biasa,” ujar seorang warga sambil kipas-kipas pakai map fotokopi. “Ini reuni nasional manusia dengan udara panas.”

Di media sosial, berbagai teori bermunculan. Ada yang menyebut kabel kelelahan bekerja tanpa libur, ada pula yang bercanda bahwa kabel SUTET mungkin ikut stres melihat tagihan listrik masyarakat yang belum dibayar.

Meski demikian, aparat memastikan investigasi terus berjalan untuk mengetahui penyebab pasti putusnya jaringan transmisi tersebut. Publik pun berharap kejadian serupa tidak terulang, sebab satu malam tanpa listrik saja sudah cukup membuat sebagian orang sadar bahwa hidup modern ternyata hanya bergantung pada tombol ON.

Dan begitulah Indonesia: negeri yang kadang lebih panik saat WiFi mati dibanding dompet hilang.

Jurnalis: SABLI

Reporter: admin