BATANG HARI – Jalan lintas yang menghubungkan Tembesi, Sarolangun, hingga Tebo kini menjadi urat nadi bagi sebuah operasi senyap. Senin, 2 Maret 2026, iring-iringan truk tangki berkelir biru-putih milik PT Indo Selaras Energi terlihat meluncur tanpa hambatan di wilayah Provinsi Jambi. Di balik plat besi tangki tersebut, tersimpan dugaan distribusi bahan bakar minyak (BBM) ilegal untuk menyokong industri gelap.
Laporan lapangan menunjukkan bahwa distribusi ini bukan sekadar niaga biasa. Bahan bakar tersebut diduga kuat mengalir langsung ke titik-titik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang kian menjamur di pedalaman Jambi.
Pengawalan dan Modus Operandi
Sumber Media Online menyebutkan bahwa kelancaran operasional PT Indo Selaras Energi di jalur “panas” tersebut tidak lepas dari campur tangan pihak berpengaruh. Nama Ketua Umum sebuah organisasi kemasyarakatan (WAL) beserta sejumlah oknum aparat mencuat sebagai aktor yang menjamin “keamanan” armada di jalan raya.
“Mereka menggunakan tangki industri resmi untuk mengelabui pemeriksaan, padahal tujuannya adalah tambang ilegal yang jelas-jelas dilarang negara,” ujar seorang informan yang mengetahui alur distribusi tersebut.
Modus pengawalan ini disinyalir sengaja dilakukan agar armada tetap melaju mulus dari pengawasan kepolisian maupun otoritas migas. Dengan status sebagai BBM industri, tangki-tangki ini melewati pos pemeriksaan tanpa kendala berarti, meski dokumen asal-usul muatan seringkali dipertanyakan.
Kebutuhan di Balik Kerusakan Lingkungan
Tingginya permintaan BBM di wilayah Sarolangun dan Tebo berbanding lurus dengan masifnya aktivitas PETI. Alat-alat berat pemecah batu dan penyedot pasir emas membutuhkan ribuan liter solar setiap harinya—sebuah celah pasar hitam yang dimanfaatkan oleh korporasi nakal.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Indo Selaras Energi belum memberikan pernyataan resmi terkait keterlibatan armada mereka dalam suplai energi untuk tambang ilegal tersebut. Namun, desakan agar aparat penegak hukum melakukan audit terhadap manifest pengiriman dan titik koordinat distribusi kini mulai menguat dari berbagai aktivis lingkungan di Jambi.
Reporter: Sabli













