JAMBI, zoom fakta – Gaya komunikasi pejabat publik kembali menjadi sorotan. Ungkapan “ndas mu”, “anjing menggonggong”, hingga respons “yauda dimasak aja” atas teror kepala babi di kantor media, memicu kritik tajam. Dosen FH UNJA, Farisi, menekankan pentingnya empati dan data akurat dalam komunikasi publik.
Farisi, seorang akademisi dan praktisi komunikasi, menggarisbawahi bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar. “Kata-kata bisa menyembuhkan, tapi juga bisa melukai,” ujarnya. Ia menyarankan pejabat untuk mengedepankan empati, logika, dan komunikasi non-verbal yang baik.
“Komunikasi melibatkan hati. Empati, empati, empati, baru logika,” tegasnya. Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan materi, gestur tubuh yang aktif, dan intonasi yang variatif dalam public speaking.
Farisi menekankan bahwa pemimpin harus mampu mempengaruhi, dengan kata-kata yang mudah dipahami dan didukung data akurat. “Jangan hanya asumsi. Gunakan data dan fakta,” katanya.
Terkait gaya public speaking Menteri Pariwisata yang kaku, Farisi memberikan tips: kuasai materi, gunakan pointers, aktifkan gestur tubuh, dan variasikan intonasi. “Kesalahan adalah guru terbaik. Belajarlah dari kesalahan,” pungkasnya.
Penulis: Dosen FH UNJA, Humas UNJA 2022-2024, Direktur Pusakademia, Trainer Certified BNSP.
Reporter: Sabli














