BATANG HARI – Aspal mulus di kawasan Simpang Mersam, Kecamatan Mersam, kini menyisakan bopeng. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Batang Hari mengendus adanya praktik lancung mobilisasi alat berat yang menjadi biang kerok hancurnya infrastruktur jalan sepanjang 30 meter tersebut.
Kepala Dinas PUTR Batang Hari, Ajrisa Windra, menyebut kerusakan ini bukan karena faktor alam, melainkan akibat kelalaian teknis. Sebuah ekskavator diduga melenggang bebas di atas permukaan aspal tanpa pengaman. “Diduga penyebabnya adalah ekskavator yang berjalan langsung di atas aspal tanpa pengamanan semestinya,” ujar Windra, Jumat, 13 Maret 2026.
Dosa Prosedur Mobilisasi
Dalam kacamata teknis, mobilisasi alat berat memiliki “protokol suci” yang kerap diabaikan demi memangkas biaya operasional. Windra menegaskan, pemindahan alat berat wajib menggunakan kendaraan pengangkut khusus atau trado.
Jika kondisi memaksa alat untuk bergerak sendiri (rolling), pengelola wajib memasang bantalan pelindung—setidaknya ban bekas—pada tapak rantai (track) agar besi tidak langsung menggerus aspal. “Kalau harus rolling, minimal disiapkan pelindung agar tidak merusak badan jalan,” tegas Windra. Sayangnya, aturan ini sering kali hanya dianggap angin lalu oleh para kontraktor atau pemilik alat.
Ancaman ‘Overtonase’ Perkebunan
Persoalan infrastruktur di Batang Hari tak berhenti pada alat berat. Windra juga menunjuk hidung kendaraan pengangkut hasil perkebunan, terutama kelapa sawit, yang kerap membawa beban melampaui batas atau overtonase.
Dinas PUTR mencatat beban berlebih menjadi “pembunuh senyap” yang memperpendek usia jalan. “Jika muatan terlalu berat, manfaat jalan tidak akan bertahan lama,” katanya.
Sinergi yang Tergerus
Pemerintah Kabupaten Batang Hari kini berada di posisi dilematis; terus membangun namun kerusakan melaju lebih cepat akibat rendahnya kesadaran menjaga aset. Jalan yang sejatinya menjadi urat nadi ekonomi kini terancam lumpuh jika sinergi masyarakat dan pelaku usaha tak kunjung membaik.
Bagi Windra, menjaga infrastruktur adalah investasi kesejahteraan. “Jika kita rawat bersama, dampaknya kembali pada peningkatan ekonomi masyarakat Batang Hari secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Reporter: Sabli














