JAMBI — Keputusan manajemen Bank Jambi untuk membuka layanan operasional pada akhir pekan, Sabtu (7/3), pasca-gangguan sistem siber yang melumpuhkan layanan digitalnya, dinilai sebagai langkah “pemadam kebakaran” yang krusial. Namun, pengamat memperingatkan bahwa langkah fisik ini hanyalah solusi jangka pendek di tengah krisis kepercayaan digital yang lebih luas.

 

Laila Farhat, S.E., M.M., pengamat perbankan, menilai kebijakan operasional terbatas ini merupakan upaya bank daerah tersebut untuk menjaga kontinuitas layanan (business continuity plan) sekaligus meredam potensi kepanikan nasabah.

 

“Membuka kantor cabang di hari Sabtu adalah sinyal bahwa bank ingin menunjukkan kehadiran fisik saat sistem digital mereka ‘menghilang’. Ini penting untuk menjaga psikologi nasabah agar tidak terjadi penarikan dana besar-besaran atau rush,” ujar Laila saat dihubungi, Senin (9/3).

 

Meski operasional fisik diperkuat, Laila menekankan bahwa fokus utama seharusnya berada pada transparansi audit teknologi informasi (TI). Gangguan siber yang sempat melumpuhkan akses perbankan digital menuntut pertanggungjawaban teknis yang lebih dalam daripada sekadar perpanjangan jam kerja kantor.

 

“Layanan akhir pekan ini adalah obat penawar sementara. Yang ditunggu pasar dan nasabah sebenarnya adalah kepastian kapan sistem keamanan TI benar-benar pulih 100 persen dan bagaimana hasil audit investigatifnya,” tambahnya.

 

Pihak Bank Jambi sendiri menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk melayani kebutuhan transaksi mendesak nasabah yang tidak terakomodasi akibat gangguan sistem. Di saat yang bersamaan, tim internal dikabarkan terus melakukan percepatan pemulihan infrastruktur digital guna memastikan seluruh kanal elektronik kembali beroperasi normal dalam waktu dekat.

 

Upaya mitigasi ini menjadi ujian berat bagi bank pelat merah tersebut dalam mempertahankan loyalitas nasabah di tengah kerentanan keamanan siber yang kian mengancam sektor perbankan daerah.

 

Reporter: Sabli

Reporter: admin