BATANGHARI – Di bawah langit Rabu yang terik, gerbang Lapas Kelas IIB Muara Bulian terbuka menyambut tamu penting. Muhammad Irwan, yang baru saja mengemban amanah sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batanghari, melakukan kunjungan kerja perdananya ke institusi pemasyarakatan tersebut pada 25 Maret 2026.
Kedatangan Irwan bukan sekadar seremoni birokrasi. Ia disambut hangat oleh Kepala Lapas (Kalapas) Muara Bulian, M. Ilham Santoso Sahdani. Keduanya segera terlibat dalam diskusi intens di ruang kerja Kalapas—sebuah obrolan yang menitikberatkan pada penguatan sinergi antara korps Adhyaksa dan pihak Lapas dalam ekosistem penegakan hukum di Jambi.
“Kunjungan ini adalah langkah awal untuk memastikan bahwa koordinasi antarinstansi berjalan tanpa sumbatan,” ujar seorang sumber di lokasi.
Dari Meja Kerja ke Area Produksi
Usai diskusi formal, suasana berubah lebih dinamis saat Ilham mengajak Irwan berkeliling meninjau “dapur” pembinaan warga binaan. Mereka melangkah menuju area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) serta Kios Pangan—dua titik vital yang menjadi barometer keberhasilan pembinaan kemandirian di Lapas tersebut.
Di sana, Irwan menyaksikan langsung bagaimana para warga binaan berjibaku dengan produktivitas, mengolah lahan dan mengelola pangan sebagai bekal saat kembali ke masyarakat nanti. Bagi Kajari, peninjauan ini krusial untuk melihat sisi lain dari proses hukum: bukan sekadar penghukuman, melainkan pemulihan martabat manusia.
Kunjungan singkat namun padat ini mempertegas komitmen kedua instansi di Batanghari untuk tetap sinkron, baik dalam hal administrasi perkara maupun dalam mencetak narapidana yang siap berdaya guna secara ekonomi.
Jurnalis: SABLI














